The Last Romance Between Two Worlds

MENYALA GAES NEWS

- Redaksi

Selasa, 7 Juli 2026 - 22:39 WIB

5031 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejak kecil, saya tumbuh dengan bayangan tentang dunia yang jauh di seberang layar kaca—dunia para koboi, padang luas Amerika Barat, dan kisah-kisah pertemuan antara dua peradaban yang sering digambarkan saling berseberangan. Dalam berbagai film yang saya tonton, konflik antara para koboi dan suku-suku asli Amerika, termasuk Apache, kerap menjadi latar cerita yang dramatis. Namun, tanpa saya sadari, perhatian saya tidak selalu tertuju pada mereka yang disebut “pahlawan utama”. Justru, ada daya tarik tersendiri pada sosok-sosok dari bangsa Native American—sebuah daya tarik yang lahir dari rasa ingin tahu yang sederhana, namun menetap lama di dalam ingatan.

Mereka digambarkan sebagai manusia yang hidup dekat dengan alam, menjunjung tradisi, dan membawa identitas budaya yang kuat di tengah perubahan zaman. Dari sana, tumbuh ketertarikan untuk memahami lebih jauh bukan hanya tentang konflik yang sering diceritakan, tetapi juga tentang kehidupan, nilai, dan warisan yang mereka jaga.

Seiring waktu, ketertarikan itu tidak pernah benar-benar hilang. Bahkan di era media sosial saat ini, tanpa saya rencanakan, berbagai informasi tentang sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Native American kembali hadir di hadapan saya. Seolah-olah ada benang halus yang terus menghubungkan masa kecil dengan masa kini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karya ini lahir dari refleksi panjang atas ketertarikan tersebut—bukan sebagai catatan sejarah, melainkan sebagai sebuah kisah fiksi tentang cinta, perbedaan, dan pertemuan dua dunia yang tidak selalu mudah untuk bersatu. Sebuah romansa yang berdiri di batas budaya, waktu, dan identitas.

The Last Romance Between Two Worlds adalah perjalanan imajinasi tentang bagaimana cinta mencoba bertahan di tengah dunia yang saling berbeda, dan mungkin, saling tidak memahami.

Novita Sari Yahya

Berita Terkait

Elegi untuk Sebuah Negeri: Ketika Cinta di Ambang Revolusi

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 21:30 WIB

Masyarakat Apresiasi Kapolri Suyudi Ario Seto, DPP LPPI: Terima Kasih Telah Menjaga Bapak Presiden Prabowo

Kamis, 1 Oktober 2026 - 19:40 WIB

Aktivis Nasional : Rekam Jejak Dudung Abdurrahman Sudah Teruji, Sangat Tepat Jabat Menko Polkam

Minggu, 27 September 2026 - 02:13 WIB

Prof DR Sutan Nasomal : Korupsi di Bogor Para ASN Bawahannya Ikut Pucuk Pimpinan Semua. Maka Kpk Jangan Basa Basi Harus Tangkap Pucuk Sampai Akarnya

Minggu, 26 Juli 2026 - 01:23 WIB

Prof DR Sutan Nasomal : Bijaksana Mengartikan Londo Ireng Sangat Penting Karena Semua Itu Adalah Saksi Sejarah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 17:58 WIB

Penahanan Febrie Tanpa Rompi dan Borgol Tuai Sorotan, PW GP Al Washliyah DKI Minta Penjelasan

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:30 WIB

PW GP Al Washliyah : Pesan dari Kalimantan Menggema hingga Jakarta, Lagu “Teruslah Melangkah” Karya Mayjen TNI Krido Pramono Menjadi Inspirasi Generasi Muda Indonesia

Kamis, 23 Juli 2026 - 20:16 WIB

Safrizal ZA Dorong Enam Kota Indonesia Jadi Penggerak Smart City ASEAN

Selasa, 21 Juli 2026 - 22:58 WIB

Usai Gencar Bela Korban Judol dan Pinjol, DPR RI Yasonna H. Laoly Alami Teror Telepon, PW GP Al Washliyah Minta Pengusutan Tuntas

Berita Terbaru